• RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Sabtu, 20 Agustus 2011

Boss vs Staff

Posted by mastong On 09:23

Bila boss tetap pada pendapatnya,
itu berarti beliau konsisten.
Bila staff tetap pada pendapatnya,
itu berarti dia keras kepala !

Bila boss berubah-ubah pendapat,
itu berarti beliau flexible.
Bila staff berubah-ubah pendapat,
itu berarti dia plin-plan !

Bila boss bekerja lambat,
itu berarti beliau teliti.
Bila staff bekerja lambat
itu berarti dia tidak 'perform' !

Bila boss bekerja cepat,
itu berarti beliau 'smart'.
Bila staff bekerja cepat,
itu berarti dia terburu-buru !

Bila boss lambat memutuskan,
itu berarti beliau hati-hati.
Bila staff lambat memutuskan,
itu berarti dia 'telmi' !

Bila boss mengambil keputusan cepat,
itu berarti beliau berani mengambil keputusan.
Bila staff mengambil keputusan cepat,
itu berarti dia gegabah !

Bila boss terlalu berani ambil resiko,
itu berarti beliau risk-taking.
Bila staff terlalu berani ambil resiko,
itu berarti dia sembrono !

Bila boss tidak berani ambil resiko,
itu berarti beliau 'prudent'.
Bila staff tidak berani ambil resiko,
itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !

Bila boss mem-by-pass prosedur,
itu berarti beliau proaktif-inovatif.
Bila staff mem-by-pass prosedur,
itu berarti dia melanggar aturan !

Bila boss curiga terhadap mitra bisnis,
itu berarti beliau waspada.
Bila staff curiga terhadap mitra bisnis,
itu berarti dia negative thinking !

Bila boss menyatakan : " Sulit "
itu berarti beliau prediktif-antisipatif.
Bila staff menyatakan : " Sulit "
itu berarti dia pesimistik !

Bila boss menyatakan : " Mudah "
itu berarti beliau optimis.
Bila staff menyatakan : " Mudah "
itu berarti dia meremehkan masalah !

Bila boss sering keluar kantor,
itu berarti beliau rajin ke customer
Bila staff sering keluar kantor,
itu berarti dia sering kelayapan !

Bila boss sering entertainment,
itu berarti beliau rajin me-lobby customer.
Bila staff sering entertainment,
itu berarti dia menghamburkan anggaran !

Bila boss tidak pernah entertainment,
itu berarti beliau berhemat.
Bila staff tidak pernah entertainment,
itu berarti dia tidak bisa me-lobby customer !

Bila boss men-service atasan,
itu berarti beliau me-lobby.
Bila staff men-service atasan,
itu berarti dia menjilat !

Bila boss sering tidak masuk,
itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.
Bila staff sering tidak masuk,
itu berarti dia pemalas !

Bila boss membuat tulisan seperti ini,
itu berarti beliau humoris.
Bila staff membuat tulisan seperti ini,
itu berarti dia :

·         frustasi

·         iri thd karir orang lain

·         negative thinking

·         provokasi

·         tidak tahan banting

·         barisan sakit hati

·         berpolitik di kantor

·         tidak produktif

·         tidak sesuai dengan budaya perusahaan

·         . . . . . . (masih banyak lagi)


Bila Boss baca tulisan ini
Berarti dia butuh waktu untuk refreshing
Bila Staff baca tulisan ini
Itu berarti nggak ada kerjaan... kaya ente2 pada......... :)

 

Rabu, 20 April 2011

SEKOLAH MEMANG (HARUS) MAHAL

Posted by mastong On 04:02

            Ketika penulis memakai judul tersebut diatas, penulis sadar bahwa hal ini akan memicu pro dan kontra bagi pembacanya. Penulis secara mendalam mencoba mengusik rasa penasaran pembaca untuk lebih serius mencermati materi yang sedang penulis urai.
            Judul diatas, sekolah memang (harus) mahal, secara sadar dipilih penulis untuk memberi peluang bagi kemungkinan-kemungkinan munculnya pemikiran-pemikiran yang inovatif dari pembaca untuk mengkaji, mempelajari dan bahkan mengkritik pemikiran penulis.
            Penggunaan judul tersebut mempunyai kecenderungan untuk menarik rasa penasaran dan memang itulah yang diharapkan oleh penulis. Penggunaan kata didalam kurung diharapkan penulis dapat menciptakan dua informasi secara langsung kepada pembaca yang pertama sekolah memang mahal dan sekolah memang harus mahal.
            Dewasa ini, tren peningkatan status sekolah untuk mencapai strata yang lebih tinggi semakin menggebu. Harapan besar dari perubahan status tersebut bermuara pada peningkatan kualitas sekolah.
            Informasi tentang sekolah memang mahal ditujukan untuk merespon kegelisahan masyarakat tentang melejitnya biaya sekolah dewasa ini. Kegelisahan yang secara nalar dapat dipahami melihat kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan kelangsungan hidup mereka.
            Ketidakberuntungan secara ekonomi ini semakin terasa menyiksa ketika bayangan-bayangan tentang kalkulasi pembiayaan sekolah datang dengan menawarkan iming-iming perubahan nasib dan masa depan mereka ketika selesai menempuhnya.
            Seperti penulis dan pembaca ketahui, hal ini tentu saja berimbas kepada pembiayaan yang tidak sedikit. Pembebanan biaya yang tidak sedikit tersebut dipikul bersama oleh produsen dan konsumen. Produsen yang tidak lain adalah sekolah tentunya berusaha agar beban ini tidak memberatkan langkah mereka. Begitu pula konsumen yang dalam hal ini adalah komite sekolah atau masyarakat yang juga berharap hal yang tidak berbeda.
            Keinginan yang sama dalam keringanan menggunakan beban tentunya menjadi benturan yang keras yang berdampak pencarian win-win solution.
            Produsen melakukan penawaran tentang fasilitas-fasilitas dan keunggulan-keunggulan sekolah yang secara nyata berbanding lurus dengan peningkatan beban biaya yang signifikan. Keadaan ekonomi yang sulit justru menjadi pembenaran bahwa program mereka memang berharga mahal.
            Sementara konsumen yang selalu berharap yang terbaik –fasilitas, keunggulan dan prestasi yang nomor satu- terjebak didalamnya tanpa bisa berpikir lebih jernih apa yang sebenarnya mereka cari dan inginkan. Sehingga pencitraan adalah sebuah jawaban dari kebingungan mereka sendiri.
            Ketika kesepakatan telah terjadi antara produsen dan konsumen maka win-win solution yang tercipta adalah harga dan produk. Ketika harga telah tinggi dan produk tidak sesuai harapan maka dengan sendirinya keputusan final bahwa sekolah memang mahal bukan suatu  omong kosong.
            Informasi yang kedua adalah sekolah memang harus mahal. Keharusan ini bukanlah suatu yang mengada-ada.
            Kebutuhan sarana dan prasarana sekolah memang seharusnya terbaik, tercanggih dan termutakhir. Keseluruhannya membutuhkan biaya yang sangat besar.
            Berbicara tentang literatur dan buku-buku materi saja membuat kita membayangkan nominal yang besar. Pengadaan BSE adalah salah satu solusi alternatif untuk meringankan pembiayaan di sektor ini bagi konsumen.
            Tetapi dilapangan proses memperoleh BSE ini juga tidak sesederhana yang kita bayangkan. Jaringan internet yang tidak merata membuat biaya produksi menjadi mahal.
            Kelemahan penguasaan teknologi juga menyebabkan proses ini menjadi tidak efisien secara waktu dan berantai menjadi tidak efektif secara hasil.
            Peralatan praktek, kelengkapan sekolah, media pembelajaran, teknologi penunjang pembelajaran kesemuanya adalah hal-hal yang benar-benar begitu ‘terlihat ‘ didalam anggaran. Dan untuk menentukan anggaran bukan suatu yang mudah bila kita berpikir jujur dan benar.
            Uraian-uraian yang dipaparkan penulis telah sedikit memberi gambaran betapa besar biaya untuk bersekolah. Dan dalam hal ini penulis berpendapat bahwa hal ini sudah benar dan memang seharusnya demikian bila sekolah diartikan dengan ilmu. Ya, sekolah memang harus mahal.
            Penulis tetap berpegang bahwa ilmu itu memang mahal. Pendidikan itu mahal. Sekolah itu mahal. Jadi sudah seharusnya biaya disektor ini sangat tinggi. Hanya saja penulis menggaris bawahi bahwa yang menanggung beban tersebut bukan konsumen maupun produsen. Hal tersebut –dalam hal ini pendidikan- adalah sama seperti, kesehatan, anak terlantar dan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak adalah tanggung jawab negara.

Selasa, 14 September 2010

Sang Presiden (2)

Posted by mastong On 12:46

“Selamat pagi, Pak!”

Aku memandangnya sebentar. Wajahnya berseri seakan dia telah menemukan apa yang dicarinya dalam hidup. “Selamat pagi, Lang.” aku tidak tega merusak semangat paginya dengan bebanku yang masih merangkul di pundakku.

“Tadi malam pulang jam berapa Pak?” sungguh begitu ramah membuka pembicaraan. Aku masih bermain dengan pikiranku sendiri. “Jangan panggil Pak.”

Dia tersenyum. Tanpa berhenti, tangannya terus menyiapkan sarapan pagi. “Tapi Pak, Bapak kan memang harus dipanggil Bapak?”

Aku melihatnya sejenak.”Berapa umurmu?”

Dia berhenti sejenak “Saya?” Aku tetap memandangnya, tidak menjawab. “Dua puluh tujuh.”
“Memangnya kenapa Pak?”

“Apa aku sudah terlihat tua?” dia melihatku dengan heran. “Tentu saja tidak.”
“Bapak terlihat masih muda. Bapak masih mempunyai tenaga. Bapak tinggal lebih bersemangat lagi. Bapak hanya perlu mewarnai hidup Bapak.”

Warna! Ya, aku seperti kehilangan warna hidupku. Semua terlihat kurang berwarna. Tidak hitam memang, tetapi juga tidak putih. Mungkin memang lebih abu-abu. Ada yang hilang dari hidupku. Sesuatu yang selama ini membungkusku dari kerasnya dunia luar. Melindungiku ketika badai cerca bertiup begitu kencang. Saat cemoohan deras mengalir. Saat tidak ada lagi yang menaruh percaya. Ketika wajah telah tertunduk dan harga diri terinjak. Warna itu akan membuat hidupku lebih ceria. Membuatnya lebih penuh warna.

“Sarapan kita pagi ini apa?” dia tersenyum. Lagi.

“Sarapan kita hari ini adalah semangat. Semangat!”

“Panggil aku Mas!” dia kembali tersenyum.

Sang Presiden (1)

Posted by mastong On 12:42

Malam yang begitu baik menemaniku perlahan mulai bersikap dingin. Nafasnya mulai mendekap daging yang menyelimuti tulang-tulangku. Aku menghela. Bukan dengan sikapnya, tetapi lebih karena aku merasa sedikit lega karena telah mencurahkan semua sesakku padanya.

Aku bergegas. Beringsut dari lantai dingin langgar kecil di tepi sawah. Terlintas tempat tinggal kecil depan sungai dibalik sawah ini. Aku seakan menghadapi kenyataan yang ada di setiap kepala manusia di negara ini. Melihat luasnya alam dan aku hanya terhanyut di gubuk penyelamat, dihimpit sungai yang coklat dan padi yang dengan rendah hati menunduk melihatku.

Ketika melintasi sawah aku seakan melihat wajah yang aku simpan dalam jiwaku. Wajah yang tidak akan mungkin terhapus dengan mudah dari ingatan. Wajah yang kulitnya pernah diguliri keharuan ketika tanganku menyapa tangannya. Ketika bibirku dengan penuh riang meluncurkan kata-kata yang telah ditunggunya. Kata-kata yang menyuburkan kasihnya padaku. Kata-kata yang tidak akan pernah ditukarnya dengan emas manapun. Kata-kata yang juga telah membawanya menemui Yendri. Kata-kata yang menculiknya dari hidupku. Kata-kata yang membuatku menyesali kehidupanku. Kata-kata yang selalu dinantinya!

Wajah itu begitu teduh. Aku sering berlindung dari sengatan panas dunia politik di sana. Mencoba memejamkan mata dan melupakan bayang yang terjadi. Dia selalu bisa membawaku melayang dengan usapan tangannya di kepalaku. Sungguh aku sangat merindukannya. Sangat-sangat merindukannya.

Andaikan aku dapat mengungkapkan keinginanku kepada Tuhan, aku akan bernegoisasi tentang apa yang terjadi. Aku akan meminta kepada Tuhan agar bisa selalu bersamanya. Bersamanya hingga kami tua dan renta oleh matahari dan bulan yang saling berkejaran.

Tidak ada hal yang bisa menenangkanku selain belaiannya. Dia tahu benar bagaimana memanjakanku. Dia begitu mengerti setiap gelombang emosiku. Dia begitu menikmati berselancar dalam deru emosiku. Dia tidak pernah menghadangnya. Dia selalu bisa mengendarainya. Benar-benar menikmatinya!

Bahkan ketika lututku tidak lurus lagi, dia berusaha meluruskannya dan mengangkatku dengan senyum yang mengingatkanku tentang kepercayaan. Mengingatkanku bahwa dia selalu ada ketika aku pulang. Mengingatkanku bahwa dia akan selalu memelukku ketika aku menggigil. Menyeka wajahku ketika layu. Membasuh kakiku ketika lumpur keirian dan kedengkian menahan langkahku memperjuangkan hidup bangsaku. Senyum yang akan selalu menyalakan api kehidupan dalam hidupku. Senyum yang akan selalu meraih tempat terhormat dalam hidupku.

Dia begitu sempurna. Rambutnya yang panjang dengan sedikit gelombang seperti memahkotai kepala yang didalamnya telah melahirkan pemikiran-pemikiran tentang kesederhanaan dan cara pandang tentang kebahagiaan dalam hidup. Bukan kebahagiaan semu yang digagas oleh para pakar. Bukan pula kesederhanaan yang diajarkan oleh tokoh-tokoh agama kita. Kebahagiaan yang bersumber karena kita memang bahagia. Bukan karena paradigma dunia tentang bahagia menyatakan seperti itu. Tidak. Dia juga tidak mengajarkan kesederhanaan hidup dari ucapan-ucapannya yang bijak atau dari tuturan-tuturan lembut tentang berbagi dengan sesama.

Kesungguhannya melayaniku telah mengajariku bagaimana bersikap didepan bangsaku. Keriangannya mengelola amarahku telah mendidikku bagaimana cara menghargai kebahagiaan hidup. Sungguh dengan cara yang sederhana. Cara yang tak pernah kau sadari telah membukakan pikiran dan hatimu bahwa cinta itu ada. Cara yang hanya bisa kau lakukan hanya dengan satu syarat. Kepercayaan.

Minggu, 12 September 2010

Wawancara Pegawai Baru

Posted by mastong On 10:01

Percakapan pada suatu ruang personalia yg sedang mencari pegawai baru.

Boss : Nama saudara siapa ?

Pelamar : Anton pak ...

Boss : Coba ceritakan tentang keluarga saudara !!...

Pelamar : Saya 2 bsaudara, adik saya masih kuliah di Bandung .. Orang Tua Saya tinggal di Surabaya .. Kakek dan nenek dari Bapak tinggal di Solo .. Kakek dan nenek dari Ibu tinggal di Medan .. Paman dan Pakde semua tinggal di Jakarta ..

Boss : Apakah saudara dapat berbahasa inggris ?

Pelamar : Yes .. sir ..

Boss : now tell to me about your family in english !!..

Pelamar : Sorry sir .. i don't have family in english

Tukang Daging dan Ibu-ibu Sakit Gigi

Posted by mastong On 09:51

Suatu pagi lewatlah seorang penjual daging.

"Dageeeng! Dageeeeennngg!!!" teriaknya.

Seorang ibu rumah tangga yang sedang sakit gigi sewot banget mendengar teriakan si tukang daging.

Ibu: "Hei tukang daging! Lu kagak punya otak ya....!!!???"

Tukang daging : "Wah kebetulan gak punya, Bu. Hari ini daging semua..."